Meski dikenal sebagai orang yang mempopulerkan tiki-taka, dalam buku barunya bos Bayern mengaku benci gaya tersebut.
Pep Guardiola membenci gaya tiki-taka yang dia terapkan di era kejayaannya bersama Barcelona.
Di bawah komando Guardiola, gaya mendominasi penguasaan bola membantu Blaugrana menyabet titel La Liga tiga kali dan dua kali menjadi kampiun Liga Champions. Tak heran jika pelatih berkebangsaan Spanyol kerap dikaitkan dengan tiki-taka, yang awalnya dikenalkan oleh Johan Cruyff di Camp Nou.

Tapi dalam buku yang ditulis jurnalis Marti Perarnau diungkapkan, pria yang kini menukangi Bayern Munich justru membenci ide penguasaan bola tanpa momentum serangan. Buku terbarunya ini mengungkapkan musim pertama Guardiola di Allianz Arena dan di dalamnya diungkapkan pelatih 43 tahun mengeluhkan kemenangan tipis atas Nurenberg: “Saya membenci semua passing itu, semua tiki-taka.

“Itu sampah dan tidak punya tujuan. Anda harus mengoper bola dengan target jelas, dengan keinginan membawanya ke gawang lawan. Ini bukan soal passing.”

Dalam pertemuan dengan para pemain di hari berikutnya, dia menambahkan: “Kalian harus menggali DNA sendiri. Saya benci tiki-taka. Tiki-taka berarti mengoper bola, tanpa keinginan jelas. Dan itu tidak berguna.

“Barca tidak melakukan tiki-taka. Ini benar-benar dibuat. Jangan percaya kata-kata itu. Dalam semua tim olahraga, rahasianya adalah memberikan tekanan di lapangan jadi lawan harus merapatkan pertahanan untuk mengatasinya. Kalian memberikan tekanan di satu sisi jadi mereka meninggalkan sisi lain melemah.

“Dan ketika kalian melakukan itu, kita menyerang dan mencetak gol dari satu sisi. Itu sebabnya kalian harus melakukan passing, tapi hanya jika kalian melakukannya dengan keinginan jelas.

“Ini hanya untuk menekan lawan dan lalu memukul mereka dengan gol. Itulah bagaimana permainan seharusnya. Tidak ada hubungannya dengan tiki-taka.”