Setelah setahun menjalani pendidikan, akhirnya tiba masa pengenalan dunia kapal, sekaligus membuat tugas akhir, semacam laporan setelah kegiatan permagangan, dan aku berlima memilih Tanjung Perak, sebagai tempat kuliah nyata. Kebetulan aku paling tua dari mereka, karena aku masuk ketika semester enam, sementara kebanyakan peserta didik lain jebolan SMU, sehingga aku yang ditunjuk jadi ketua.

Ternyata di tempat yang disediakan oleh yayasan adalah tempat yang jauh dari nyaman, yaah, maklumlah, kota pelabuhan. Kami harus satu kamar berlima, persisnya bangunan berlantai tiga berukuran 67 yang mempunyai empat kamar tidur dan dua kamar utama itulah yang menjadi tempat kuliah nyata kami. Aahh, tak apa-apa, toh rumah yang lain tidak lebih baik dari ini, pikirku.


Satu hari menjelang awal perkenalan, kami dikejutkan dengan kedatangan tujuh lelaki yang katanya lulusan lembaga di mana kami belajar. Merekalah yang sedikit banyak akan memberikan pengetahuan tentang dunia perkapalan untuk kami. Mereka khusus didatangkan dari kapal untuk membimbing kami. Setelah para senior memperkenalkan kami, mereka menempati tiga kamar lain. Entah mengapa, sejak awal aku sudah merasa tidak beres.

Benarlah dugaanku, senioritas telah menjadikan mereka sosok yang sangat menakutkan, di pertemuan berikutnya. Kesalahan kecil harus berujung dengan hukuman, yang terkadang kurasakan kelewatan. Tidak jarang pelecehan harus kami alami sebagai hukuman yang kami tidak tahu bentuk kesalahannya.

Aku tidak tahan dengan perlakuan mereka. Aku sadar, bahwa mereka tertekan, setelah selama lebih dari tiga bulan, baru merasakan daratan. Selama itu pula hanya berteman dengan laut, ikan, burung laut, tidak lebih. Tapi aku merasa tidak harus kepada kami perasaan tertekan itu dilampiaskan. Di minggu ketiga hari libur kami, akhirnya aku beranikan untuk protes, tanpa sepengetahuan teman-temanku. Tanggungjawab atas kepercayaan mereka yang telah menunjukku sebagai ketua, membangkitkan keberanianku. Tidak seperti hari libur sebelumnya, yang biasanya kami berlima menghabiskan malam di tepi laut, dan tidur di sembarang tempat, asalkan tidak di tempat kami karena muak dengan perlakuan senior kami yang memang jauh lebih tua, namun malam itu aku pamit pada mereka untuk menemui Pak Kasim, penjual nasi langganan kami untuk urusan penting.

Rasa tidak tahanku dengan perlakuan senior, telah membuat rasa takutku hilang. Aku bergegas pulang ke tempat kami. Aku yakin jam-jam begini, mereka biasanya sedang main kartu. Membuatku semakin yakin, bisa melunakkan hati mereka.

Hati-hati aku masuk, dan menuju kamar utama, namun begitu terkejutnya aku, karena kudengar dengusan dan suara-suara aneh. Aku terus melangkah, dan betapa terhenyaknya aku, ketika kudapati para seniorku tidak sedang main kartu, namun sedang bergumul dengan dua cewek yang entah dari mana. Mereka kaget, sama halnya aku yang baru pertama kali menemui perbuatan yang tak terbayangkan sedikitpun. Tujuh laki-laki dan dua perempuan yang semuanya telanjang bulat, sedang bergumul dirasuki setan.

“Biadab..”. Teriakanku seolah membuat mereka semakin kesetanan.
“Oo, sudah jagoan yaa?, salah satu dari mereka mendekatiku dan mencengkeramku.
“Teman-teman, ada jagoan baru nih, ayo kita uji”.

Setelah diberi aba-aba, serentak mereka mengerubungiku. Salah satu mulai membuka jaketku dengan paksa. Aku berontak, namun justru mereka semakin gemas. Tak urung kaosku pun harus lepas dari tubuhku. Menyusul celanaku harus lepas juga, dan akhirnya aku pun telanjang bulat sebagaimana mereka. Dengan ganas dipermainkannya penisku, aku berontak sekuatnya, aku tidak bisa teriak, karena mulutku dibekapnya. Yang kurasakan hanya rasa sakit di pangkal pahaku. Dan mereka terus merancapku. Rasa sakit mulai berubah rasa, ketika jilatan mendarat di sekujur tubuhku. Kenikmatan mulai menjalar, apalagi ketika dua perempuan itu juga ikut bereaksi. Lumatan dua bibir mereka di penisku yang sudah sangat tegang, memberiku pengalaman kenikmatan yang tiada tara. Aku justru mulai mengikuti permainan lidah mereka. Kulihat seniorku tertawa-tawa, bernada mencemooh.

Ketika memek mereka mulai disodorkan ke penisku, aku mengerang. Antara rasa bersalah dan nikmat telah mengajariku satu pengalaman mendebarkan. Aku justru beraksi memaju mundurkan pantatku. Akhirnya, kenikmatan itu berujung pada menyemburnya mani dari penisku. Aku mengerang, dan mulai melemas setelah itu.

Mereka tertawa demi melihat diriku yang di persimpangan segala rasa. Namun kejadian selanjutnya justru semakin membuatku tidak bisa berbuat banyak. Mereka menuntut lebih dari itu.

“Jangan bertingkah, dan ikuti mau kami, kalau kamu tidak ingin kejadian tadi tersebar ke kampusmu. Ke orang tuamu, dan habislah kau!”.

BERSAMBUNG...

Cerita Selengkapnya >>> http://zonamerah108.blogspot.com/201...rah-janda.html